Tuesday, March 25, 2008

Avanza di Bongkar di Jl. Dipati Ukur

Di Muat Juga di Surat Pembaca HU. Pikiran Rakyat:
Rabu, 12 Maret 2008 Pk. 14.20 WIB saya berniat membeli kaos olah raga di Villour Jl. Dipati Ukur Bandung. Karena Parkir di Villour penuh, saya mencoba parkir di Apotik (samping Villour), namun ternyata juga penuh. Saat itu, ada orang (seperti tukang parkir) yang mengarahkan saya dengan memberi kode untuk memarkir kendaraan saya di depan rumah kosong yang terletak di pinggir jalan Dipati Ukur (arah ke Monumen), kira-kira 50 meter dari Villour. Di tempat tersebut, telah parkir Honda City warna Silver, dan mobil saya parkir persis di belakangnya.

Keluar dari Villour sekitar Pk. 14.30 WIB dan kembali ke mobil, ternyata jendela kaca pintu tengah sebelah kiri mobil saya sudah dalam keadaan hancur. Dugaan saya, kaca mobil tersebut dicongkel oleh pelaku pencurian menggunakan sejenis obeng. Pelaku sangat profesional karena mampu melumpuhkan sistem keamanan (alarm) yang saya pasang. Pelaku tersebut kemudian mencuri tas punggung saya yang berisi:

Notebook Toshiba Tecra A2 Warna Silver;
External Hardisc Toshiba 120 GB;
STNK Kendaraan R-4 Merk Toyota Avanza No. Pol. D 86 BU;
KTP Kota Bandung;
SIM A dan C yang didapat dari Polwiltabes Bandung;
Kartu ATM Bank BNI, Bank Mandiri, Bank Jabar;
Buku Tabungan Bank BNI, Bank Mandiri, dan Bank Jabar;
Kartu Mahasiswa S3 Unpad.
Sejumlah Uang Tunai.

Saya menghimbau kepada pelaku pencurian tersebut, kiranya dapat mengembalikan berbagai kartu identitas dan STNK kendaraan atas nama saya, karena barang-barang tersebut tidak akan pernah berguna ditangan Anda. Data-data di Notebook sama dengan data-data di External Hardisc yang sangat berguna bagi saya karena menyimpan berbagai data pekerjaan dan naskah disertasi saya. Saya berharap Exsternal Hardisc tersebut dapat dikembalikan ke alamat saya dan/atau ke Redaksi PR.

Melalui surat pembaca ini, saya juga ingin mengingatkan kepada para pengguna kendaraan untuk berhati-hati jika parkir di Jl. Dipati Ukur, terutama dilokasi tersebut. Kepada Redaksi PR, atas dimuatnya surat ini saya ucapkan terimakasih.
Budi Utomo
Telp: 081320990011/081320990022/92280217
Nb:
Siapa tahu diantara kawan-kawan yang mengunjungi blog saya ada yang "mendeteksi" keberadaan barang-barang tersebut... Nuhun.........

Friday, March 21, 2008

Miracle of Love by Inspiring Couple

"Miracle of Love by Inspiring Couple"
Dikutip dari:
Catatan:
Mbak Aan, Mohon Izin saya copy tulisannya di blog saya, saya terinspirsai banyak hal setelah membaca Tulisan Mbak.... Semoga dapat menginspirasi orang-orang yang kenal dan mau mengenal saya lewat blog ini... Terimakasih...

Nama the inspiring couple ini adalah Mbak Dian dan Mas Eko. Saya menjuluki mereka begitu karena keduanya sangat menginspirasi banyak orang melalui buku yang baru saja diluncurkan yang berjudul: Miracle of Love. Saya beruntung, alhamdulilah, bisa mengenal mereka cukup dekat selama tiga tahun terakhir – saya mengisi sebagian waktu senggang saya dengan menjadi volunteer di yayasan yang mereka dirikan: Yayasan Syamsi Dhuha – Syamsi Dhuha Foundation.
Banyak kegiatan yang dilakukan yayasan nirlaba ini. Tapi dua hal yang menonjol adalah Care for Lupus dan care for Low Vision, dua kondisi (lupus dan low vision) yang dialami mbak dian selama ini.

Lupus adalah suatu penyakit autoimun yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Secara gampang, lupus ini adalah satpam yang seharusnya menjaga rumah majikan tetapi justru melakukan pencurian di rumah majikannya. Kalo mau dipaksa-paksain, Lupus ini berkebalikan dengan HIV/AIDS. Kalo mereka yang kena HIV?AIDS kekebalan tubuhnya menurun, sementara Odapus (orang dengan Lupus) malah kelebihan banget. Sampai saat ini belum ditemukan penyebabnya sekaligus juga obatnya. Yang dilakukan adalah mengeliminasi bagian tubuh atau organ yang diserang.

Low vision adalah suatu keadaan ketika luas pandang seseorang menjadi terbatas. Ia bisa melihat, tetapi dalam kondisi yang sangat terbatas. Mbak Dian adalah seorang low vision dengan kemampuan penglihatannya hanya 5 persen saja. Kebanyakan mereka yang low vision kerap secara serampangan dikategorikan buta total.

Apa sih hebatnya mereka berdua? Sebagai pasangan, mereka saling mendukung. Mas Eko P Pratomo adalah Dirut PT Fortis Investments, perusahaan sekuritas terkemuka di Indonesia, yang sebagian waktu kerjanya adalah menghadiri berbagai meeting di berbagai belahan dunia. Seorang businessman yang andal di bidangnya.

Sementara mbak Dian Syarief, sebelum Lupus menjadi bagian dari hidupnya sejak sekitar 10 tahun silam, adalah manajer Public Relation (PR) Bank Bali. Namun sejak mengidap ‘penyakit seribu wajah’ itu dan harus menjalani berbagai macam operasi untuk menyelamatkan hidupnya, otomatis pekerjaan itu ditinggalkannya. Kini, sebagian besar waktu mbak Dian diabdikan untuk yayasan yang didirikan dengan suaminya tercinta. Kantor pusat yayasan ini di Bandung.

Suami tercinta? Ya..tentu saja, mas Eko adalah seorang suami yang sangat peduli dan sayang pada istrinya. Ia telah berjanji untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga dan merawat mbak Dian -- perempuan yang dinikahinya sekitar 17 tahun silam, meskipun tak akan pernah memberinya seorang anak kandung. Perempuan cantik yang berpenglihatan terbatas.

Padahal, jika Mas Eko mau, ia bisa menikah lagi – agama mengizinkan seorang lelaki menikah lagi karena istrinya sakit. Mbak Dian pun pernah menawari mas Eko -- yang penampilannya pun membuat kesengsem salah satu majalah perempuan dan menawarinya untuk menjadi model majalah tersebut -- untuk menikah lagi, setelah mbak Dian diketahui tak mungkin melahirkan seorang anak dari rahimnya. Tapi Mas Eko mengatakan, ia memilih untuk mendampingi Mbak Dian yang harus minum obat terus-menerus sepanjang hidupnya sebab hingga kini Lupus tak diketahui obatnya dan selalu menjadi ‘’mata’’ buat Mbak Dian.

Beberapa kali, saya bersama mereka dalam waktu yang cukup lama, seharian. Saya melihat sendiri bagaimana perlakuan Mas Eko pada Mbak Dian. Saya mengatakan, Mas Eko adalah lelaki yang luar biasa.. hanya kesalehan sosial yang tinggi yang membuatnya bisa berbuat seperti itu.. Hanya lelaki yang hatinya tertambat kepada Allah sajalah yang mampu melakukan kesetiaan seperti itu.

Tetapi jangan salah. Yang hebat tak cuma Mas Eko. Dalam persepsi saya, Mbak Dian pun tak kalah hebat. Dialah yang menjadi inspirasi saya untuk kemudian menjadi volunteer di Syamsi Dhuha Foundation (SDF). Mengapa? Sebab mbak Dian yang hanya bisa melihat siluet orang (tanpa tahu wajahnya seperti apa), dan yang kerap harus keluar masuk rumah sakit atau terkapar di tempat tidur saat Lupus menyerang, begitu bersemangat membagi ilmu dan berbagi kebahagiaan buat orang lain. Saya berpikir sendiri, kok saya yang sehat, tak bisa? Padahal saya punya waktu.. kalau saya mau..

Bahkan saya sempat merasa heran, ketika pertama kali mengenal mbak Dian lebih dekat. Mbak Dian bilang, hobinya memasak. Saya pikir-pikir, mana bisa mbak dian memasak? Membedakan saya dengan teman saya saja, mbak dian tidak bisa kok…

Setiap kali saya dan beberapa teman berkumpul bersama, mbak dian akan menebar senyum, mengulurkan tangan dan pasti bertanya, ‘’Assalamualaikum.. ini siapa?’’ karena ia bisa mengenali kami jika kami bersuara. Kalau hanya melihat postur tubuh, dia tak bisa sebab sekali lagi yang dilihatnya hanya siluet. Lha ini, kok masak? Bagaimana dia bisa membedakan bumbu ini dan itu? bagaimana dia bisa mengetahui bahwa kue atau sayur yang dibuatnya sudah matang?

Ternyata, ada trik khusus yang sudah dipelajari. Sederhananya, mbak Dian pernah bercerita pada saya. ‘’Masakan yang sudah matang dan belum bisa diketahui dari tingkat kepanasan masakan tersebut,’’ katanya. Haduhhh, ampun deh.. saya nggak ngerti.. nggak bisa membayangkan, tetapi sekaligus saya salut pada kerja keras dan semangat belajar mbak Dian. Jadi,

Di luar itu, Mbak Dian adalah istri yang sangat mencintai suaminya. Ia patuh dan hormat pada Mas Eko. Sesuatu yang membuat lelaki merasa nyaman bukan? Merasa dihargai dan diperlukan…

Selain itu, ini sebuah rahasia..:D ternyata sebelum Mbak Dian sakit, Mas Eko sudah terlebih dulu ‘sakit’. Menurut Mas Eko, dalam sebuah perbincangan untuk wawancara dengan saya, ada suatu masa ketika Mas Eko merasa seperti tak tahu tujuan hidup dan hampa. ‘’Saya bekerja, tapi saya bertanya, untuk apa saya kerja? Saya merasa bosan dengan semua hal,’’ kira-kira seperti itu yang diucapkan Mas Eko pada saya. Di saat seperti itu, Mbak Dian-lah yang menjadi penyemangat hidup Mas Eko..

Mbak Dian-lah yang membangkitkan semangat mas Eko dan terus mendukung Mas Eko sehingga Mas Eko bisa mengatasi persoalannya itu. Karena itu, Mas Eko sangat mencintai Mbak Dian..

Karena itu pula, mereka saling mendukung seperti yang kita lihat saat ini…
Ada sebuah kisah, yang mengharukan saya. Seorang sahabat volunteer di yayasan, menikah. Mbak Dian pun – yang ternyata ketika kuliah pernah menjadi penyiar radio di Bandung – menjadi MC di acara tersebut. ‘’Coba An, baru loh dalam sejarah, ada MC yang nggak bisa liat,’’ ujar mbak Dian dengan tawa berderai kepada saya yang menatapnya seraya membayangkan bagaimana itu bisa terjadi.

Mbak Dian membuka rahasianya… ‘’Aku dibisikin sama Mas Eko. Dia jadi mata buat aku,’’ ungkap Mbak Dian, saya tersenyum mendengarnya. ‘’Jadi pas penganten pria datang, Mas Eko bisikin aku.. ‘penganten pria dah nyampe’.. gitu aja semuanya.. aku ngomong aja, sesuai dengan informasi dari Mas Eko,’’ katanya terbahak. Subhanallah…

Lalu, Mbak Dian bilang, ‘’An, aku udah sukses nih jadi MC pernikahan. Jadi nanti kalo kamu nikah, tenang.. udah ada MC-nya.’’ Saya senang mendengarnya.. saya sangat berharap saat itu segera tiba. Tapi ketika saya menikah, hampir setahun kemudian, ternyaa Mbak Dian sedang sakit.. berbulan-bulan sakitnya. Tak mengapa mbak, toh niat baiknya sudah dicatat Allah..

Memang Lupus adalah suatu penyakit yang datangnya tidak diduga. Ada beberapa indikasi gejala Lupus, tetapi banyak yang kerap abai dengan hal tersebut. Bahkan yang mengidap Lupus pun kerap lupa kalo dirinya Lupus.. Saat sehat, saat Lupus tak aktif, seorang Odapus akan terlihat seperti mereka yang sehat wal afiat.

Yayasan yang didirikan oleh Mas Eko dan Mbak Dian ini, Syamsi Dhuha Foundation (SDF) adalah yayasan yang mereka dirikan demi berkhidmat kepada sesama. Setiap kali mengadakan acara, meskipun tetap mencari sponsor, tetapi mayoritas dana disiapkan oleh mereka berdua. Suatu ketika, ada seorang yang bertanya kepada mbak dian, ‘’Kalo mengadakan kegiatan seperti hari lupus sedunia, dananya dari mana?’’ Mbak dian mengaku bingung menjawabnya… ‘’Dari mana ya? Ya pokoknya ada aja.. kita sih kalo udah niat untuk bikin acara yang diusahakan untuk bisa jalan. Ada nggak ada dana… nggak mungkin kalo nggak ada dana trus kita nggak jadi..,’’ kata Mbak Dian.

Jawaban itu seolah sesuatu yang menohok sebagian orang, sebab faktanya memang banyak pihak yang menyelenggarakan acara dengan catatan dananya ada. Kalo dananya nggak ada ya nggak jadi bikin acara. Sementara mbak dian dan mas eko justru sebaliknya, tentu saja acara yang dibuat disesuaikan dengan kemampuan dana yang mereka miliki.

Yayasan ini memfasilitasi pada Odapus dan sahabat Lovi (low vision) sehingga bisa mengakses lebih banyak kesempatan untuk menikmati hidup mereka. Para Odapus, dibantu untuk mendapatkan diskon saat menebus obat di apotek atau dirawat di RS tertentu di Bandung. Kegiatan yang lain adalah tafakuran, sebagai spiritual healing, dan beragam kegiatan lainnya. Yang poinnya adalah berbagi sehingga Odapus dan sahabat Lovi tidak merasa sendirian. Pendekatan yang dilakukan memang lebih banyak pendekatan agama.

Yayasan ini memang basisnya di Bandung sebab mbak Dian lebih banyak beraktivitas di Bandung. Konon, udara bandung lebih cocok untuk Mbak Dian ketimbang Jakarta. Sedangkan untuk para Lovi, selama ini mereka kerap kurang mendapat perhatian dari pihak manapun. Orang yang lovi sebenarnya tidak buta, sebab mereka masih bisa melihat meskipun terbatas penglihatannya.

Inilah yang antara lain diperjuangkan yayasan.. sosialisasi dan edukasi mengenai lupus, yang menyerang perempuan dan lelaki di usia produktif.. Lupus menjadi lebih ‘parah’ ketika dokter tidak memahaminya.. sehingga salah diagnosis. Karena itu edukasi mngenai lupus ini perlu terus disebarkan…

Melalui buku Miracle of Love (yang diluncurkan Januari lalu), kita bisa memperoleh informasi lebih jelas dan detail mengenai Mbak Dian dan Mas Eko, kekuatan cinta mereka yang berlandaskan kecintaan kepada Allah juga. Tak cuma itu, keuntungan bersih dari penjualan buku ini, didedikasikan untuk yayasan syamsi dhuha yang nota bene, adalah untuk membantu para Odapus dan sahabat Lovi.

Satu hal, baik mbak dian dan mas eko, saling berwasiat bahwa siapapun yang meninggal terlebih dulu, maka yang masih hidup akan melanjutkan yayasan tersebut. ‘’karena yayasan ini menjadi wakaf bagi kami,’’ kata mbak dian. Jika Anda merasa tercerahkan atau mendapatkan sesuatu dari cerita saya, tolong forwardkan posting ini kepada teman, kerabat, saudara, sahabat dan semua kenalan Anda.. dan jika Anda ingin berkhidmat untuk membantu, belilah buku ‘Miracle of Love’ yang insya allah isinya menyentuh..

Buku tipis itu, tak seberapa harganya jika dibandingkan dengan niat baik Anda untuk membantu.. atas nama cinta kepada sesama.. Untuk waktu anda membaca posting ini, untuk waktu anda memforward posting ini.. saya mengucapkan terima kasih.. Insya Allah, semua itu akan dicatat sebagai kebaikan yang kita lakukan,.. wallahu alam...

Care for Lupus, your caring saves live
Low Vision, Care and Share

Jakarta, 29 Februari 2008
(Catatan kecil mengenai dua orang yang sudah saya anggap seperi kakak saya sendiri)

Thursday, March 13, 2008

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Dikutip Dari Milis PPI India

“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri. Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan.…”

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita…

Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya. Tiga puluh tahun yang lalu… Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah. “Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja” tegas ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus. Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri.”

Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah
dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.”

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.

“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!” “Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam. Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang
murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga, saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.” Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha.”

Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit....
Kukatakan kepadanya....
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring....
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba...
Bukan karna ketiadaan kata-kata...
Tapi karena kupu-kupu kelelahan...
Akan tidur di atas bibir kita...
Besok, oh cintaku… besok...
Kita akan bangun pagi sekali...
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka...
Dan akan terbang bersama angin...
Seperti burung-burung...

Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!!!!

“Gila… ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak: “Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.”

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini. “Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak: “Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan. Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah SWT dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…”

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.*** [milis ppi india]

DPRD KABUPATEN PELALAWAN
SIAK SRI INDRAPURA